Friday, January 02, 2026

Musang berjanggut melolong

 Maka berkokok musang berjubah dalam media sosial. Lolongan mengambarkan dialah hero-wira seantero alam membela tuannya. Macam tak ada group telegram lebai-lebai. Sememangnya, dia seronok dan naik stim apabila menghentam kelompok yang didakwanya paling suci dan paling benar. Sudah tentu isu baiah antara objek yang seronok dihentam.

 

Isu baiah ini untuk menolak pengkhianatan dalam perjuangan. Orang yang sanggup mengkhianati perjuangan dan merelakan isterinya dicerai, itu sehina-hina manusia. Kalau betul tak setuju dengan perjuangan dan ingkar arahan ketua, sila letak jawatan.

 

Bukan dia tak tahu, tetapi rasa dia lebih betul dan lebih benar. Akhirnya dia lebih kurang dengan pihak yang didakwanya jumud, fanatik, seleweng agama dan ekstrem tu.

 

II

 

Pentadbiran awam tidak lari daripada pengaruh institusi raja (termasuk keluarga diraja dan bangsawan), orang politik, birokrat dan taikun. Disatu negeri, seorang taikun berbangsa Cina dijadikan lawak jenaka dalam kalangan rakyat jelata dengan gelaran ‘Tengku’ kerana menjadi sumber kewangan kepada takhta dan keluarga.

 

Yang merosakkan peribadi seorang Raja ialah

1. Terlibat dalam perniagaan termasuk melalui proksi

2. Campurtangan dalam politik pentadbiran dan politik kepartian

3. Main perempuan, arak dan judi

 

Seorang Raja kena jaga:

1. Pandangan alam dan perangai

2. Kebajikan rakyat

3. Tanah dan Air termasuk hutan

 

 

Sebab-sebab berlakunya Sifat Alim Tapi Jahat

Prasangka, Agenda Tersembunyi dan Tidak Ikhlas

Mustahil kita boleh berlaku adil menerima kebenaran pandangan, hujah dan dalil pihak atau individu tertentu jika kita mempunyai prasangka buruk, agenda tersembunyi, tidak ikhlas dan niat tidak jujur.  Ini adalah hukum Allah SWT yang perlu kita akui. Tidak kira seseorang seorang yang genius dan berpendidikan tinggi, jika niat tidak jujur, tidak ikhlas dan berprasangka buruk, setiap kebaikan dan kebenaran yang dilakukan oleh orang lain akan tetap terhijab.

Fakta ini dijelaskan Al-Qur`an dalam ayat,

“Dan apabila kamu membaca Al-Qur`an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup. Dan Kami adakan tutup di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut nama Tuhanmu saja dalam Al-Qur`an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.” (Surah al-Israa`: 45-46)

Dalam hal ini, Rasulullah telah mengucapkannya dalam sebuah hadits berikut. Bahawasnya ayah Abdurrahman bin Abu Bakar telah meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda,

“Jika Allah menginginkan berbuat baik kepada seseorang, Dia akan jadikan orang itu memahami agamanya dan ilmu itu dicapai melalui belajar.” (Bukhari, I/67)

Al-Quran akan memberikan petunjuk kepada seseorang yang memiliki kerendahan hati untuk memperoleh keselamatan dan akan menyesatkan orang-orang yang memiliki motif-motif tersembunyi dan melakukan pelecehan terhadap Al-Quran dan as-Sunnah. Tidak seorang pun yang mempergunakan informasi yang menyesatkan, interpretasi, penipuan, dan prasangka yang diambil dari orang lain, yang dia gabungkan dengan prinsip-prinsipnya sendiri, pandangan dan falsafah hidupnya sebagai ukuran yang akan mampu memahami Al-Quran dan boleh mengambil manfaat darinya. Bahkan yang terjadi adalah sesuatu yang sebaliknya. Al-Quran akan membuat orang itu akan meningkat kebingungan dan ketidakjelasannya. Sebagaimana ia tidak boleh mengerti Al-Quran, dia akan senantiasa melakukan hal-hal yang sama sekali tidak berguna dan sia-sia, melakukan penolakan yang tidak logik, berbelit-belit, dan interpretasi yang kabur. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebuah ayat Al-Qur`an,

“... dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (al-Israa`: 82)

 

Kebingungan Antara Ayat-Ayat Mutasyabihat dan yang Muhkamat

Perintah dalam Al-Quran telah dijelaskan dengan cara yang jelas. Dengan demikian, orang-orang yang beriman akan dengan mudah mematuhinya. Ayat-ayat ini disebut ayat-ayat yang muhkam dan merupakan “inti Kitab Suci” dan menjadi asasnya. Ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang disebut dengan ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat semacam ini memiliki beberapa kesamaran. Orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Al-Quran dan memiliki niat yang tersembunyi terjebak dalam menyalah-tafsirkan ayat-ayat ini dan pentafsirannya berbelit-belit dan membingungkan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur`an,

Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali Imraan: 7)

Hanya Allah sahaja yang tahu erti sebenarnya dari “ayat-ayat mutashabihat”.

Menyalah-gunakan Ilmu dan Manhaj

Al-Qur`an adalah kitab suci penuh mukjizat yang mengandung semua informasi penting yang diperlukan oleh manusia disebabkan didalamnya terkandung hikmah abadi. Sejumlah ayat yang ada di dalam Al-Quran mengandungi ilmu pengetahuan yang tidak terbatas yang diletakkan didalamnya yang mengandung hikmah superior. Beberapa ayat mengandung makna yang tersurat dan tersirat. Ayat-ayat itu juga memproduksi makna yang tidak terhingga tatkala ia berinteraksi dengan ayat-ayat yang lain. Adakalanya satu ayat mampu menafsirkan Al-Qur`an secara keseluruhan. Itulah sebabnya, seseorang mampu menginterpretasi Al-Quran secara benar dan mampu menangkap semua isinya, ia harus mampu menangkap semua isinya dan sekaligus juga memiliki keahlian semua syarat kaedah pentafsiran.

Penyalah-tafsiran terhadap a-Quran berlaku disebabkan sesetengah pihak mempunyai agenda tersembunyi.

 

Kekurangan dalam Pengetahuan Bahasa Arab

Allah menyatakan bahawa Dia telah menurunkan Al-Qur`an sebagai satu kitab suci yang ditulis dalam bahasa Arab. Secara kasat mata, penerjemahan ke dalam berbagai bahasa akan dianggap cukup jika seseorang hanya ingin mengetahui prinsip-prinsip dasar, seperti pengetahuan tentang Allah, prinsip-prinsip utama keimanan, dan aplikasinya yang esensial sebagaimana jika ia hanya mengharapkan hidayah dan perenungan tentangnya. Walaupun demikian, tidak satu pun dari hasil terjemahan itu yang memiliki nuansa yang sama dengan bahasa orisinal Al-Qur`an. Walaupun mungkin ada penerjemahan, penerjamahan kata per kata, banyak dari kosakata ataupun makna-maknanya akan hilang sebab akan sangat tidak mungkin mengadaptasi secara gramatikal beberapa kata dalam bentuk kalimat yang tepat persis ke dalam bahasa lain.

Dengan demikian, apa yang disebut dengan “terjemahan Al-Qur`an” tak lebih dari apa yang bisa ditangkap dan dirasa dari kandungannya dan tidak akan pernah merefleksikan secara aktual maknanya yang pasti dari ayat-ayat itu.

Dengan demikian, hanya dengan dipelajari Al-Qur`an dalam bahasa aslinya (Arab), kemampuan seseorang untuk memahami makna ayat-ayat mutashabihat itu bisa menjadi semakin luas. Usaha untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Qur`an dari hasil terjemahan bisa saja tidak akan selalu akurat, dan secara fakta, bahkan bisa mendistorsi makna dan tujuannya. Dengan hanya mendasarkan pada satu makna dan makna serupa dalam beberapa kata yang dipergunakan dalam terjemahan tanpa mengetahui makna orisinal dan beragam makna yang lain dalam bahasa Arab, hanya akan menghasilkan kesalahpahaman dalam semua ayat. Bahkan lebih buruknya lagi adalah, sebuah interpretasi secara keseluruan akan menghasilkan makna yang berseberangan dengan makna aslinya.

Sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya, secara teknis sangatlah tidak mungkin untuk menerjemahkan Al-Qur`an ke dalam bahasa lain kata demi kata. Walaupun demikian, penjelasan dan interpretasi dari ayat-ayat Al-Qur`an itu bisa dibuat dalam beragam bahasa dan ini memang sangat mungkin untuk mengerti akan Al-Qur`an dan belajar tentang ayat-ayat itu dari penjelasan dan keterangan itu.

Bahasa Arab adalah bahasa yang memiliki akar yang demikian dalam dan merupakan bahasa yang paling kaya di dunia. Bahasa Arab memiliki satu ekspresi yang demikian kuat dan memiliki kosakata yang demikian ekstensif. Walaupun demikian, untuk mengklaim karena Al-Qur`an ditulis dalam bahasa Arab, kemudian dinyatakan bahwa Al-Qur`an hanya diturunkan untuk orang-orang Arab dan dengan demikian mereka menjadi manusia pilihan, akan menjadi asumsi yang sangat aneh dan sangat bertubrukan dengan idealitas Al-Qur`an. Sudah jamak diketahui bahwa Al-Qur`an sering kali menekankan bahwa yang menjadikan seseorang dianggap baik dan superior adalah karena adanya karakter takwa yang ada dalam dadanya. Hanya orang-orang yang dekat kepada Allahlah yang dianggap sebagai orang yang paling baik. Tidak ada kriteria lain yang bisa diterapkan untuk seseorang selain kriteria ini. Lebih dari itu, telah disebutkan dalam surah Shaad pada ayat 87 bahwa Al-Qur`an adalah “sebagai peringatan bagi semesta alam”. Orang-orang yang tujuannya untuk memengaruhi orang-orang yang bodoh dan berusaha untuk menghancurkan Islam akan selalu menciptakan klaim bahwa Islam adalah sebuah agama yang khusus untuk orang Arab. Dengan membaca Al-Qur`an saja, seseorang akan menyadari bahwa betapa tidak berdasarnya dan sangat naifnya ide-ide yang mereka katakan itu.

 

Tidak Adanya Hikmah dan Kefahaman

Seseorang yang ingin mentafsir Islam mesti memiliki hikmah dan kefahaman terhadap al-Quran, as-Sunnah, Ijma’ Ulama dan Qiyas. Dalam sebuah hadis,

Abdullah bin Umar meriwayatkan bahawa Rasulullah bersabda, “Tidaklah seseorang dibolehkan iri kepada seseorang kecuali hanya dalam dua perkara: seseorang yang Allah kurniaan kekayaan lalu dia pergunakan pada jalan yang benar; kemudian orang yang Allah kurniaan kepadanya hikmah agama (Al-Quran dan Sunnah) dan dia memberikan kesaksian sesuai dengan itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, 9/419 dan 6/543)

Paling utama ialah mempelajari Al-Quran dengan pengetahuan yang tuntas tentang Al-Quran termasuk memahami tentang berbagai metode pentafsiran dan memiliki pengetahuan bahasa Arab.

Kefahaman dan hikmah datang daripada DOA dan tahap ketundukan diri kita kepada Allah SWT melalui ketaatan kepadaNya (ibadah malam).

Seseorang yang tenggelam dalam khayalan akal dan nafsu syahwatnya tidak akan memiliki keadaan otak yang benar dalam membuka dan merungkai rahsia daripada Al-Quran dan mengeksplorasi nilai-nilainya yang sangat indah, misteri dan kedalaman kandungannya. Mereka hanya mengkaji al-Quran secara selektif agar memperkuatkan hujah mereka. Mereka mahu al-Quran mengikut kehendak akal dan nafsu diri mereka bukannya mereka mengikuti al-Quran.

Disebutkan dalam Al-Quran bagaimana seseorang yang tidak benar tidak boleh menangkap makna sebenarnya dari Al-Qur`an. Allah berfirman,

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqaan: 43-44)

 

Lemah Fikiran

Disebutkan dalam Al-Qur`an bahwa dalam usaha untuk bisa menginterpretasikan Al-Qur`an dengan benar sesuai dengan isinya, seseorang hendaknya berpikir dan berkomtemplasi tentang Al-Qur`an. Jika Al-Qur`an hanya dilihat secara superfisial dan dibaca dalam posisi sebagaimana buku-buku biasa lainnya, manfaat yang sebenarnya dari hikmah yang tiada batasnya ini tidak akan muncul ke permukaan. Dalam Al-Qur`an, Allah secara konstan mengajak manusia untuk menggunakan akalnya dan senantiasa berpikir. Berpikir, menggunakan akal, dan selalu berusaha keras serta berupaya untuk mengerti maknanya, menggapai nilai-nilainya yang indah, misteri dan mukjizat Al-Qur`an, adalah hal-hal yang sangat esensial jika seseorang secara benar melakukan apresiasi terhadap Al-Qur`an itu. Al-Qur`an mengabarkan kepada setiap manusia tentang dirinya sendiri, tujuan di balik penciptaan dirinya, watak asli dunia ini, alasan-alasan kejadian yang mengelilingi dirinya yang disertai dengan beberapa hal yang berhubungan dengan dirinya dan wilayah sekitarnya. Dengan demikian, seseorang hendaknya berusaha untuk membangun sebuah koneksi antara ayat-ayat itu dan dirinya, alam sekelilingnya dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya, dan berusaha sekuat tenaga untuk mengerti Al-Qur`an dengan melakukan pemikiran yang mendalam tentang semua itu. Sebagaimana hal tersebut dinyatakan dalam Al-Qur`an bagi orang-orang yang mengambil pelajaran,

 

“Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya, Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran.” (al-An’aam: 126)

 

“... Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir.” (Yunus: 24)

 

Sepanjang ayat-ayat ini diberikan hanya kepada orang-orang yang berpikir maka menjadi jelas bahwa orang-orang yang tidak melakukan itu tidak akan mampu memahami makna-makna ayat-ayat Al-Qur`an secara benar.

Adalah sebuah fakta bahwa kehidupan seseorang selalu dipenuhi dengan berbagai pelajaran yang bisa dia pelajari dari peristiwa-peristiwa yang dia alami dalam dirinya sendiri dan lingkungan yang mengelilinginya. Al-Qur`an adalah sebuah petunjuk yang memperlihatkan kepada seseorang bagaimana cara menginterpretasi pelajaran-pelajaran hidup ini dan bagaimana seharusnya dia bereaksi tatkala ia telah memahami pengalaman hidup itu. Seseorang hanya bisa mampu memahami makna sebenarnya dari Al-Qur`an jika dia membaca dengan kontemplasi yang benar bahwa Allah adalah Pemilik ilmu pengetahuan dan hikmah yang tiada batasnya. Telah disebutkan dalam salah satu ayat Al-Qur`an bahwa Al-Qur`an adalah satu kitab suci di mana seseorang harus melakukan kontemplasi dengan serius dan hendaknya dia dijadikan sebagai sebuah sumber petunjuk. Allah berfirman,

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

 

Pada ayat yang lain, Allah menegaskan bagaimana pentingnya pemikiran yang sejati tentang Allah. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,

 

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” (al-Mu’minuun: 68)

 

Al-Qur`an adalah sumber ilmu pengetahuan yang tanpa batas dan superior karena ia merupakan wahyu yang Allah, Tuhan semesta alam, turunkan. Al-Qur`an memuat seluruh topik, dari sifat-sifat Allah hingga keajaiban penciptaan, dari keanehan jiwa manusia hingga misteri alam semesta, hari kiamat, dan seterusnya. Dengan demikian, apresiasi tentang sejumlah besar informasi yang ada di dalamnya dalam bahasa yang asli dan esensial hanya bisa dicapai dengan adanya kombinasi antara pemikiran yang mendalam, kesadaran yang tinggi, dan perhatian pada detail-detail, hati yang jernih, dan kemauan yang keras.

 

Bersifat Sombong, Rasa Lebih Genius, Rasa Lebih Suci dan Superior

Sifat sombong akan menghambat seseorang untuk memahami Al-Qur`an. Apabila dalam diri seseorang ada sifat sombong, dia akan selalu menganggap dirinya sebagai makhluk yang superior. Dia tidak akan memiliki kerendahan hati dan kesedaran yang diperlukan untuk memahami lebih dekat Al-Quran secara benar dan tepat. Dia tidak akan mampu melihat dan menerima ayat-ayat yang mengingatkan hamba Allah tentang kelemahan dirinya dan fakta bahawa Allah adalah satu-satunya Zat yang telah memberikan segalanya untuknya yang selama ini belum pernah dia miliki. Dia tidak akan mampu menerima peringatan-peringatan itu, tidak akan boleh mengikuti perintah Al-Qur`an dan tidak akan mampu menjaga dirinya dari apa yang Al-Qur`an larang, serta tidak akan tunduk pada hikmah Allah.

Al-Quran dianggap sebagai ancaman terhadap karakter dirinya. Dia akan menempuh segala cara untuk mengkontradiksikan Al-Qur`an. Sebagaimana yang Allah firmankan bahawa seseorang yang sombong tidak akan mampu memahami Al-Qur`an,

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai darinya.” (al-A’raaf: 146)

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya, Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.” (al-Kahfi: 57)

Sifat sombong menjadikan seseorang melihat kegeniusan dirinya sendiri, budaya dan ilmu pengetahuannya sebagai sesuatu yang superior. Pangkat, kuasa, ilmu dan kekayaan menjauhkan diri daripada menerima dan mengikuti nas al-Quran dan as-Sunnah. Akibatnya, sifat sombong ini boleh mencegah seseorang daripada memahami Al-Qur`an. Manusia seperti ini banyak digambarkan dalam ayat-ayat Al-Qur`an. Seperti firman Allah dibawah ini,

Sesungguhnya, orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang mereka sekali-kali tiada akan mencapainya. Maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (al-Mu’min: 56)

“Dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (al-Jaatsiyah: 8)

Dengan demikian, kita mengambil konklusi bahawa untuk mengerti Al-Quran, seseorang harus memiliki sifat rendah hati dan tawadhu’ serta ketaatan dan menampakkan penyerahan diri secara total kepada Allah dengan kesedaran bahawa seseorang bukanlah apa-apa di depan kekuasaan-Nya.

 

Cuba Mentafsir Islam dengan Akal, Nafsu dan Pemikiran yang Tidak Islami

Ada diantara mereka yang hidup pada era moden ini dalam hal standar sosial, yang menerima aturan-aturan yang diaplikasikan oleh mayoritas manusia sebagai suatu fakta yang absolut dan menggunakannya untuk mencoba menginterpretasikan Al-Qur`an. Manusia seperti ini membentuk mayoritas manusia yang mencoba untuk menentang Al-Qur`an, meskipun mereka adalah orang yang paling sedikit pendidikan dan budayanya. Adalah mungkin untuk menemukan orang-orang seperti ini di setiap bidang profesi dan masyarakat. Mereka membentuk suatu komunitas, yang tidak berpikir secara mendalam atau memiliki suatu bentuk pandangan tertentu serta terobsesi hanya pada kehidupan duniawi dan berfokus pada kehidupan mereka. Karena mereka mencari kesenangan sesaat, keuntungan dan kalkulasi yang kecil, mereka mempersepsikan Al-Qur`an sebagai suatu ancaman yang akan membatasi kebebasan mereka, mengubah gaya hidup dan harapan mereka yang sederhana serta tatanan di mana mereka terbiasa hidup. Karenanya, mereka mencoba untuk menentang Al-Qur`an dengan logika mereka yang primitif.

Anggota kelompok ini membuat komentar yang sama tentang Al-Qur`an bahwa mereka telah mendengar dari yang lainnya ide-ide yang bukanlah berasal dari diri mereka. Mereka biasanya membuat perhatian yang tidak masuk akal dan bertentangan tentang Al-Qur`an dengan menggunakan kalimat-kalimat yang dimulai dengan kata-kata: “Pada abad ke-21...,” “Pada masa dan era kita...,” “Pada masa ruang angkasa...,” “Di Barat...,” dan sebagainya.

Mereka berpendapat bahwa antara gaya hidup yang digambarkan dalam Al-Qur`an dan yang berlaku di masa kini tidaklah sesuai, dan fakta-fakta yang ada di masa lampau telah kuno. Berdasarkan perspektif tersebut, mereka secara terus-menerus membuat pernyataan-pernyataan salah yang berkaitan dengan Al-Qur`an. Misalnya, mereka menyatakan bahwa amalan seperti puasa dan shalat telah mencampuri langkah gaya hidup modern, bahwa larangan Islam terhadap bunga bank tidak dapat dipraktikkan di bawah kondisi perekonomian dewasa ini, dan bahkan larangan berbuat zina di masa kini merupakan bukti dari ketidakmungkinan diterapkannya Al-Qur`an dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mereka menerapkan logika superfisial dan melakukan penolakan yang gencar saat diterangkannya topik-topik tentang shalat, perintah-perintah, dan larangan-larangan dalam Al-Qur`an. Mereka mengemukakan berbagai argumentasi tentang kebijakan dalam perintah-perintah yang tidak mereka pahami atau ayat-ayat yang mereka tidak mengerti. Yang lebih buruk, mereka tetap mempertahankan pernyataan-pernyataan irasional mereka dengan amat garang. Hal-hal semacam ini berasal dari fakta bahwa apa yang mereka pertahankan dengan penuh semangat seperti itu berdasarkan ide-ide mayoritas, bukan dari logika atau akal sehat.

Mereka menerima gaya hidup dan pandangan duniawi umum yang dimiliki suatu komunitas, yang mereka rujuk sebagai “fakta-fakta kehidupan” sebagai kebenaran yang absolut serta mencari-cari kesalahan dan ketidaksesuaian yang terdapat dalam Al-Qur`an dengan mengambilnya sebagai suatu poin rujukan. Pendapat yang mereka pergunakan sebagai kriteria tidak memiliki nilai logika dan sains yang aktual. Konsep-konsep yang mereka asumsikan sebagai kebenaran yang absolut, “fakta-fakta kehidupan”, atau syarat-syarat dunia modern, sebenarnya merupakan ilusi di mana mereka hanya menipu diri mereka sendiri dan dalam rangka saling menyediakan dukungan psikologis.

Kita diberitahu, dalam Al-Qur`an, tentang jalan berbelit dari manusia-manusia ini, yang menghimpun seluruh kekuatan mayoritas dan berpikir bahwa mereka berada pada jalan yang lurus karena mereka berada dalam keharmonisan dengan setiap orang,

 

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’aam: 116)

 

Pengalaman Dalam Beragama

Pengalaman dalam beragama menghasilkan jiwa pemberontakan yang akhirnya menentang agama. Pada peringkat awal, mereka hanya menentang orang agama, kemudian sistem atau ajaran dalam agama dan akhirnya menentang semua yang datang daripada agama.

Mereka yang meletakkan kesalahan keatas agama disebabkan oleh [1] kelemahan dan kesilapan orang agama atau lulusan agama, [2] kekurangan kefahaman seseorang itu terhadap agama, [3] mempunyai agenda tertentu atau berniat serong ke atas agama dan [4] mempunyai ‘ideologi’ tertentu yang bersifat anti atau me-nyahkan agama.

Dalam agama Islam, kesilapan lulusan agama atau agamawan terbahagi dua iaitu [1] tidak beramal dengan Islam menurut al-Quran, as-Sunnah, Ijma’ ulama dan Qiyas, [2] melakukan kesilapan, tidak warak dan perkara yang berdosa kecil, [3] melakukan dosa besar dan [4] terlalu syadid (tegas) dalam pandangan dan amalan. Kesilapan ini membaca fitnah kepada agama Islam.

Jiwa pemberontakan terhadap agama Islam boleh dilihat dalam beberapa karya seperti novel Laknat (Fahmi Mustaffa), buku Pengolakan Pemikiran Islam (Ahmad Wahib), Ulama Yang Bukan Pewaris Nabi (Wan Ji Wan Hussin) dan Pengalaman Bertuhan (terbitan MEGC).

Islam mesti dikaji melalui nas al-Quran dan as-Sunnah serta Ijma’ Ulama dan Qiyas ulama-ulama rabbani. Asas ilmu pengajian Islam ialah 300 tahun yang pertama. Ketulenan ilmu, amalan dan akhlak Islam terletak pada zaman itu. Ulama-ulama muktakhir mentafsirkan agama berpandukan asas zaman itu dan mempunyai susur galur ilmu yang sahih serta mengamalkan akhlak Islam, bolehlah kita mengambil ilmu daripada mereka.

Tentang dosa yang dilakukan oleh orang agama, tidak wajar kita menyalahkan agama Islam. Orang agama hanyalah manusia biasa yang tidak maksum dan pemegang khazanah ilmu Islam sahaja. Walaupun mereka pemegang khazanah ilmu Islam, tidak semestinya mereka mengamalkan ilmu Islam tadi. Banyak keadaan yang menerima ilmu itu lebih baik amalannya daripada pemberi ilmu dari segi istiqamah dan pengamalan.

 

Fikrah yang Kabur

Ustaz Sharipudin bin Ab Kadir menyatakan, “fikrah yang kabur ialah fikrah yang disaluti dan diselubungi oleh pemikiran yang bertentangan dengan Islam dengan alasan meraikan kepelbagaian masyarakat zaman sekarang sehingga menggadaikan asas-asas dan prinsip Islam terutamanya yang berkaitan dengan aqidah. Hubungan antara kafir dan Islam perlu mengikut prinsip Islam yang jelas. Bukan hanya meletakkan mereka dalam satu kategori sahaja iaitu mad`u sedangkan Islam meletakkan kategori orang kafir dengan pelbagai hukum mengikut sikap dan sifat mereka. Fikrah meletakkan orang kafir dalam satu kategori dan membolehkan penglibatan mereka dalam hal-hal kenegaraan di luar batas syarak adalah menyeleweng daripada fikrah Islam”.

Kekeliruan Pemikiran yang Timbul

Islam Versi Siapa dan Islam Bagaimana?

Persoalan sebegini dimainkan untuk menghakis kewibawaan seseorang ulama dan cuba melemahkan institusi atau organisasi Islam.

Islam bukan agama yang dihasilkan oleh pentafsiran para ulama berdasarkan kehendak nafsu dan aqal mereka. Peranan ulama mengkaji, menyebar, mentafsir dan menyusun ilmu yang diperolehi daripada sumber-sumber yang berautoriti, berwibawa, sahih dan benar.

Islam suatu ‘agama’ yang bertunjangkan ilmu yang diperakui kesahihannya. Menurut Syeikh Muhammad Shaleh Bin Abdullah Mengkabauwi, asal amal (amalan dan tindakan) dan asal ma’rifah (mengenali Allah) itu (adalah) ilmu, dengan sebab itulah (kita) wajib menuntut ilmu.

Kesahihan ilmu dalam pengajian Islam bergantung kepada [1] sumber dan [2] kewibawaan ulama. Menurut Syeikh Muhammad Shaleh Bin Abdullah Mengkabauwi, bermula asal ilmu itu al-Quran. Jika ilmu tidak muafakat atau bertentangan dengan Al-Quran dan As-Sunnah, ilmu itu akan ditolak dan tidak perlu dipegangi.

Al-Quran ditanzilkan oleh Allah. Pentanzilan ini mewajibkan kita menerima tanpa alasan dan segala hujah yang ditentukan oleh Al-Quran. Konsep Tanzil ini wajib dipegang dan diimani dalam meningkatkan darjah keihsanan diri kita di sisi Allah SWT.

Kewibawaan ulama ditentukan dengan [1] ketaqwaan, [2] sanad ilmu, [3] kebolehpercayaan dan [4] jarak zaman mereka dengan zaman Rasulullah SAW dan zaman Sahabat. Dalam pengajian ilmu secara bersanad, kita mampu belajar dengan para guru yang bersambungan sanad mereka sehingga kepada penulis asal kitab. Keaslian dan kesahihan ilmu terjamin benar daripada penyelewengan.

Menjawab persoalan Islam versi siapa. Allah SWT menerangkan dalam Surah Al-Maidah ayat 3,

‘.... Pada hari ini, Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmatku bagimu dan telah Aku redha Islam sebagai agamamu...’

Sudah cukup ayat ini mengambarkan bahawa Islam ini adalah sistem yang ditanzilkan oleh Allah SWT untuk manusia. Manusia mesti hidup dalam sistem yang ditentukan olehNya.

Para ulama dengan teliti menyusun ilmu-ilmu Islam dan kaedah ilmu. Mereka bukan mewujudkan sesuatu benda yang baru tetapi menyusun untuk lebih mudah dan sistematik untuk orang mempelajarinya.

Perbezaan pandangan antara ulama dan agamawan dibenarkan. Kita dibenarkan memilih pandangan ulama yang paling dekat dengan al-Quran dan as Sunnah. Pandangan ulama yang jauh daripada sumber al-Quran dan as Sunnah bukannya ditolak tetapi dihormati pandangan mereka.

Kita mengakui ada sesetengah ulama atau agamawan yang kurang beradab, ekstrem dan pelbagai kelemahan, kesilapan dan kekurangan. Kelemahan, kesilapan dan kekurangan itu disebabkan oleh diri mereka sendiri bukannya Islam. Kita diberi akal untuk memilih pandangan ulama, pemilihan itu dalam lingkungan syarak dan kaedah ilmu-ilmu Islam.

Dalam mencari Islam bagaimana, kita mesti meluruskan pandangan hidup kita tentang Islam, kita wajib menyakini apa yang diutarakan oleh Imam Hassan al-Banna seperti di bawah:

1. Hukum dan ajaran Islam lengkap mencakupi seluruh urusan dunia dan akhirat.

2. Intipati ajaran Islam ialah al Quran dan as Sunnah Rasulullah SAW.

3. Islam adalah agama yang lengkap menyentuh seluruh aspek kehidupan untuk semua bangsa pada bila-bila masa dan di mana sahaja tempatnya.

Islam tidak boleh dilaksanakan mengikut kehendak akal dan nafsu kita. Islam perlu dilaksanakan berdasarkan sumber-sumber dan kaedah ilmu-ilmu Islam. Justeru, kita mesti terus belajar tentang Islam. Jika kita sudah menguasai ilmu-ilmu Islam, kita boleh terus merujuk kepada sumber ilmu tanpa mengikuti hujah-hujah ulama.

Persoalan yang timbul sebenarnya bukanlah Islam siapa atau bagaimana?. Persoalan sebenarnya ialah sejauhmana kita menYAKINi al-Quran dan as Sunnah yang menjadi tunjang amalan kita dan sejauhmana kita mengAMALkan Islam yang kita belajar?.

Bagaimana Mahu Belajar dan Memahami Pentafsiran Ulamak Dengan Betul?

Ramai kalangan kita mempelajari Islam melalui kaedah yang tidak betul manakala sesetengah ulamak menyalahgunakan ilmu mereka untuk tujuan tertentu. Akibatnya, kehilangan adab dan barakah serta menambah kekeliruan dan muncul permusuhan ekoran perbezaan pandangan.

Pengajian Islam mengutamakan kaedah talaqi dan bersanad. Justeru, peranan guru sangat penting. Ia bukan sekadar BACA buku kerana pembacaan buku tanpa guru menghasilkan kefahaman dan pentafsiran yang berbeza dengan sumber ilmu yang asali. Antara usaha yang perlu dilakukan ialah mengenali para imam melalui murid-murid yang berguru dengan mereka.

Dr Hapiz Mahayuddin menyatakan pandangan di bawah;

Pemikiran dan pengajaran para imam besar seperti imam Abul Hasan al-Asy'ari, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Syafie, al-Ghazzali hanya boleh diketahui (bagi para pengkaji) melalui susur alur berikut :

1. Karya-karya mereka yang autentik (tidak termasuk yg telah dimansuh/dirujuk). Karya-karya Abul Hasan al-Asy'ari misalnya adalah saling melengkapi dan tidak boleh dilihat terpisah antara satu sama lain.

2. Nukilan murid-murid mereka yang bertalaqqi, mengadap, mencatat, mendengar syarahan pengajaran, memahami lafaz karya-karya imam dalam konteks sebenar, seterusnya menaqalkan rumusan pengajaran imam kepada generasi ulama seterusnya. Apa yang dinaqal bukan sekadar kitab atau teks kaku, tetapi syarahan dan kefahaman sebenar karya para imam.

3. Naqalan murid para imam yang membawa dua warisan penting iaitu kitab dan kefahaman sebenar kitab dikembangkan oleh para ulama generasi terkemudian dalam karya-karya lanjutan untuk mengembang dan memantapkan madrasah atau aliran pengajian (pada waktu penginstitusian ilmu). Sekali lagi kitab dan 'kefahaman sebenar' para imam dipelihara dan dipulihara oleh ulama generasi terkemudian daripada diseleweng atau cuba diberikan 'makna baru' oleh ulama aliran lain ataupun golongan tidak diketahui status yng cuba mengeksploitasikan pemikiran imam-imam tersebut untuk tujuan yang salah.

4. Tradisi inilah yang diwarisi dalam institusi pengajian ulung seperti al-Azhar, Zaytunah dan Qarawien, serta yang mengikuti gaya pengajian yang serupa (umpamanya pondok). Sebahagian besarnya telah berkembang di Nusantara termasuk Malaysia. Hasil tradisi ilmu ini telah menjadi silibus pendidikan, asas undang-undang pentadbiran Islam, mahkamah syariah, kurikulum IPTA/IPTS dan cara hidup beragama di 13 buah negeri kecuali Perlis.

Ini antara asas penting untuk mengkaji pemikiran seseorang imam besar. Tidak hanya melihat pada karya-karya besar seperti al-Ibanah (Imam al-Asy'ari), al-Umm & al-Risalah (Imam al-Syafie) dan al-Muwattak (Imam Malik), lalu mengisbatkan imam-imam tersebut (dalam posisi ilmu masing-masing) berbeza pandangan dengan murid-muridnya atau murid-muridnya silap faham terhadap ajaran imam-imam mereka.

Kesan tidak melalui susur galur inilah yang menyebabka ada pihak mendakwa Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari menyalahi pegangan Ash'ariyyah, mendakwa Imam Syafie melarang keras org awam bertaqlid kepadanya. Logikkah beratus ulama aqidah yang mendampingi Al-Asy'ariy tidak menyedari ada beberapa ajaran penting beliau telah diubah, dirujuk atau diserapi pemalsuan yang hanya disedari oleh pengkaji abad 20?. Begitu juga, jika benar larangan bertaklid itu suatu yang serius untuk ulama dan orang awam, masa-kan Imam al-Syafie bertegas tentang bakal pengganti halaqah ilmunya :

ليس أحد أحق بمجلسي من يوسف بن يحيى، وليس أحد من أصحابي أعلم منه".

Jikalau al-Buwayti faham macam orang sekarang faham maksud larangan taqlid, pasti beliau akan bawa metode baharu yang lebih 'menepati salafussoleh'...

Apa yang dikatakan bahawa istilah Ahlussunah wal Jamaah, sunnah, salafussoleh, imam al-Asy'ari dan imam al-Syafie telah dihijacked oleh kelompok tidak bertanggungjawab memang ada BENARNYA!. Ia perlu dinaturalisedkan!

Polemik Keutamaan Fikrah Tanpa Tanzim

 Polemik keutamaan antara fikrah dan tanzim seringkali berlaku dalam gerakan Islam.

Bagaimanakah kita mahu mengenali Ikhwanul Muslimin? Presiden Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA), Ustaz Abdullah Zaik menyatakan “kata al-Banna sendiri dan disebut-sebut dalam pengajarannya diukur pada kadar iltizam dengan manhaj fikri dan amalinya.

Dari segi manhaj fikri, lihat pada manhaj tarbiah yang dipakai oleh satu-satu jamaah.

Dari segi amali, lihat pada gerak kerjanya sama ada mengikut maratib amal atau tidak?

Adakah dia laksanakan risalah taklim (dari segi faham, maratib amal dan sebagainya) sepenuhnya atau tidak?

Menurut Ustaz Abdullah Zaik lagi, “keahlian ikhwan bukan dilihat dari segi daftar ahlinya dengan isi borang tetapi sejauhmana orang itu iltizam dengan fikrah ikhwan iaitu islam sebagaimana yang diterangkan oleh Al Banna dalam usul 20.

Sejauhmana seseorang faham, beramal, berkorban dan memuliakan fikrahnya sejauh itu kedudukannya dari segi kenggotaan dalam tanzim.”

Ustaz Abdullah Zaik menjelaskan, “Setelah menjelaskan sepuluh rukun baiah dan 38 wajibat akh amil Hasan al Banna menyebut;

Aku beriktiqad bahawa jika anda mengerjakannya (rukun baiah dan wajibat) dan menjadikannya cita-cita dan matlamat hidup anda, anda akan mendapat kemuliaan dan kemenangan di dunia dan kebaikan dan keridhaan di akhirat, anda daripada kami dan kami dari anda, dan jika anda berpaling dan tidak mengamalkannya maka tidak ada hubungan antara kami dengan anda, walaupun anda mengepalai majlis kami, membawa gelaran yang paling hebat dan tampil dengan penampilan yang paling hebat. Allah akan muhasabah anda kerana itu dengan hisab yang paling sukar. Pilihlah untuk diri anda apa yang sesuai, kami berdoa kepada Allah untuk kami dan anda hidayah dan taufiq”.

Kemudian beliau menyebut ayat 10-14 surat as sof yang bermaksud;

“wahai orang yang beriman! mahukah aku tunjukkan kepada kamu satu perniagaan yang menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?. Kamu beriman kepada Allah dan Rasul serta berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa raga. itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. …..sehingga akhirnya”.

Imam al Banna memperingatkan kita kepada hakikat intima’ yang sebenarnya iaitu dengan melakukan kepatuhan kepada Allah s.w.t bukan berbangga dengan rasmiyyah dan jawatan semata-mata.

Jawatan dinilai dengan sejauhmana mengamalkan tuntutan dan intipati dakwah (rukun baiah dan 38 wajibat).

IMAM AL BANNA MENGIKAT KEMENANGAN DAN KEMULIAAN DENGAN AMAL BUKAN DENGAN SYAKLIYAH IDARIYAH SAMA SEKALI. ini bezanya Ikhwan dengan organisasi lain, intimaknya ialah intima’ fikri dan aqidi bukan syakli idari”.

Ustaz Sharipudin bin Ab Kadir menyatakan,

Dalam mana-mana gerakan atau harakah Islam, tanzim adalah peraturan yang perlu dipatuhi. Mentaati tanzim kerana kefahaman bukan kerana paksaan atau peraturan semata-mata. Ketaatan adalah kerana kefahaman terhadap fikrah yang mereka dokong. Amat malang jika satu-satu jemaah yang berorganisasi tapi tanzimnya berlaku kecelaruan kerana tiada ketaatan kepada pimpinan dan siapa yang seharusnya membuat keputusan untuk menentukan hala tuju jemaah. Dakwah Ikhwan Muslimin amat mengambil berat masalah tanzim dan menjadikan tanzim yang tersusun antara ciri-ciri dakwahnya”.

Membenarkan dan memposisikan para pemimpin jemaah Islam ke dalam organisasi Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (SEPILIS) adalah satu ijtihad yang merugikan umat Islam kerana menjuruskan kepada fitnah dan mudharat yang lebih besar. Ia bukan sahaja memerangkap mereka kepada agenda SEPILIS tetapi melarutkan pemimpin Islam ke dalam SEPILIS. Inilah yang berlaku pada Anwar Ibrahim, Hassan Turabi dan Cak Nur. Dalam konteks Malaysia, IRC-IKRAM kerap memposisikan dan menyeludup pemimpin mereka ke dalam organisasi lain termasuk organisasi SEPILIS seperti Negaraku.

Fikrah Islam tanpa tanzim tiada timbul masalah selagi menyokong atau bersimpati dengan perjuangan tanzim dan tidak mendokong perjuangan SEPILIS. Sukar untuk seorang yang tidak berdisiplin berada dalam sesebuah organisasi yang memerlukan wala’. Ramai yang memilih fikrah tanpa tanzim.

Tujuan Kepimpinan

Tujuan kepimpinan (qiyadah) dalam Islam ialah berkhidmat semata-mata kerana agama (khidmah diniyah). Segala arahan yang diberi adalah dalam rangka menyusun strategi bagi melaksanakan syarak. Jauh daripada bersifat untuk memerintah atau mencari kepentingan duniawi, mencari kemegahan, pujian dan sesuatu yang akan hilang. Semuanya adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah Subhanahuwata’ala.

Kepimpinan (qiyadah) yang berwibawa dalam sebuah jamaah merupakan unsur terpenting yang akan menggerakkan  sesebuah organisasi.

Hak dan fungsi strategik kepimpinan (qiyadah) di antaranya ialah :

1. Fungsi koordinatif (mengatur).

2. Fungsi imperatif (memaksa).

3. Fungsi pembuat keputusan (terutama dalam situasi darurat).

Kepimpinan (qiyadah) dipilih untuk ditaati.

Walaupun seseorang pemimpin mempunyai hak dalam membuat sesuatu keputusan. Keputusan yang terbaik dari segi Islam ialah keputusan syura. Khalifah Umar Al Khattab berkata, “Tidak ada kebaikan pada urusan yang diputuskan tanpa syura”.

Syura bermaksud, “Berbincang, berbahas dan meneliti pandangan-pandangan dalam semua urusan terutama yang melibatkan kepentingan umat. Pandangan-pandangan itu diteliti dan ditapis oleh para pemikir, pakar, ulama’ dan ahli-ahli mesyuarat bagi mendapatkan keputusan yang paling sahih dan betul”.

Syura ada dua jenis iaitu [1] ‘Syura mulzim’ bererti pemimpin terikat dengan keputusan syura. [2] ‘Syura mu’lim’ iaitu pemimpin berbincang dengan ahli-ahli mesyuarat atau sesiapa yang layak, tetapi diakhir perbincangan pemimpin tersebut tidak terikat dengan pandangan-pandangan mereka dan ia boleh mengambil pandangan yang dikiranya baik selama mana tidak bertentangan dengan nas dan garis panduan yang telah sedia ada di dalam mengambil keputusan

Pada permulaan dakwah, Imam Hasan Al-Banna berpegang kepada syura yang 'mu'lim', tetapi pada akhir hayatnya beliau telah menegaskan prinsip syura 'mulzim'. Perkara ini dapat dilihat apabila al-Imam al Banna mewujudkan satu lajnah yang diketuai oleh Al-Imam sendiri telah merangka satu draf'undang-undang jamaah. Antara yang menganggotai lajnah tersebut ialah Abdul Hakim Abidin, Tahir al-Khasyab dan Soleh al-Esymawi. Undang-undang itu telah diterima pakai pada 1948 iaitu setahun sebelum Imam Hasan Al Banna syahid.